Senin, 01 Juli 2019

Pendaftaran HSI AbdullahRoy Tahap II Khusus Ikhwan

⁣⁣
*๐Ÿ”Š๐Ÿ”Š DI BUKA...*⁣

••• ═══ ༻ ๐Ÿ“ฎ๐Ÿ“ฎ༺ ═══•••⁣
*Pendaftaran HSI AbdullahRoy Tahap II*⁣
*Khusus Ikhwan (30 Juni-2Juli 2019M)*⁣
••• ═════ ༻༺ ═════ ••• ⁣

๐Ÿ‘ฅUntuk antum yang belum kebagian kuota atau terkendala saat Pendaftaran Tahap 1 ikutan pendaftaran HSI AbdullahRoy Tahap 2 yuuuks....⁣

*๐Ÿšน Hanya untuk Ikhwan*⁣

๐Ÿšบ Untuk Akhowat yang mendaftar menggunakan menggunakan kuota Ikhwan dengan mengganti jenis kelamin pada Form Pendaftaran akan di remove dari dari grup apapun alasannya..⁣

๐Ÿšซ Pendaftaran bisa DI TUTUP sewaktu-waktu jika kuota telah terpenuhi...⁣

๐Ÿ’จTunggu apalagi...?? buruan daftar...sebelum telaat...⁣

https://daftar.abdullahroy.com

Baarakallahu fiikum⁣

Panitia Pendaftran HSI AbdullahRoy⁣
⁣⁣
══════ ❁✿❁ ══════⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
✍๐Ÿผ Jangan lupa SUBSCRIBE dan LIKE video HSI AbdullahRoy, hanya di Channel Resmi HSI AbdullahRoy⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
๐Ÿ–ฒ Klik di www.youtube.com/c/HSIAbdullahroy⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣
#HSIAbdullahRoy #HSI #AbdullahRoy #UstadzAbdullahRoy #quota #daftarhsi #sesi2 #dakwah #dakwahmedia #pendaftaranhsi #hsi192 #caradaftarhsi #daftarhsi #HijrahKeHijriah #tauhid #hsipernik #hsimedia #BelajarTauhid #IndonesiaBertauhid #dakwahindonesia #dakwahsunnah #belajarislam #alqurandansunnah #syawal

Rabu, 05 September 2018

BOLEHKAH TAUHID DAN BID'AH DIBAGI-DIBAGI ?

BOLEHKAH TAUHID DAN BID'AH DIBAGI-DIBAGI ?

___________🌻🌻🌻🌻🌻_____________

Sekelompok muslim membagi bid'ah menjadi 2 yaitu bid'ah dholalah dan bid'ah hasanah, dan bahkan dibagi 4 yaitu bid'ah wajib, bid'ah sunnah,bid'ah makruh dan bid'ah haram dengan alasan bahwa itu adalah pendapat ulama.

Saat disampaikan padanya tentang tauhid dibagi 3 yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma wasifat juga dengan alasan pendapat ulama,mereka malah bertanya "#Apakah #Nabi #pernah #mengajarkan #bolehnya #tauhid #dibagi-bagi ?".
Padahal kalau kita mau adil maka sama saja kalau kita bertanya "Apakah Nabi pernah mengajarkan bolehnya bid'ah dibagi-bagi?.

Tentu jawabannya sama yaitu "tidak ada dalil dari Nabi bahwa tauhid dibagi 3 atau bid'ah dibagi 2".Karena keduanya berada pada posisi "Pendapat Ulama".

Ulama adalah jembatan ilmu yang bisa membantu kita untuk memahami agama yaitu ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Kita tidak mungkin bisa memahami Al Quran dan As Sunnah kalau tidak melalui pemahaman dan penjabaran ilmu dari para ulama.

Allah dan Rasul telah memerintahkan kita bertauhid atau mengesakan Allah.

Nah,bagaimana wujud tauhid/mengesakan Allah dalam kehidupan sehari-hari maka fungsi ulamalah untuk menjabarkannya, yang memberi petunjuk kepada kita untuk mudah memahami keesaan Allah.

Bukankah Rasulullah telah bersabda

"Barangsiapa yang memberi petunjuk kepada kebaikan, maka baginya pahala orang yang mengikuti petunjuknya tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun" (HR. Muslim).

Atas dasar ini, sehingga ulama berpeluang melakukan penjabaran ilmu sebagai petunjuk bagi manusia untuk mengikuti kebaikan yaitu bertauhid kepada Allah.

👉 Inti dari tauhid adalah mengesakan Allah sebagai Dzat yang berkuasa mencipta, yang berhak diibadahi dan yang memiliki sifat/nama yang agung.

Yang salah, bila pembagian tauhid menyimpang dari ajaran tauhid seperti

✔ membagi tuhan menjadi 3 oknum,

✔membagi cara beribadah yang mengandung kesyirikan.

Begitupun halnya bisa dibagi 2 guna membantu orang untuk memahami kesesatan bid'ah,
seperti bid'ah akidah dan bid'ah amalan,

tetapi bila pembagian justru membenarkan kesesatan bid'ah maka pembagian yang seperti ini tidak boleh karena Rasulullah telah menyatakan

"Setiap bid'ah adalah sesat",yang artinya tidak ada bid'ah yang baik menurut hadis Rasulullah.

Andaikan ada bid'ah yang baik tentu Rasulullah mengatakan

"#Sebagian #bid'ah #adalah #sesat".

Jadi selama tidak merubah makna tauhid dan kesesatan bid'ah, maka ulama bisa menjabarkan ilmu dengan membagi tauhid dan bid'ah.

Barakallahfik

(Ditulis oleh : Abdullah)

Jumat, 06 Juli 2018

Belajar Islam Dari Dasar

📜 *TELAH DIBUKA...!*

📮 _AlhamduliLLah, waktu yang ditunggu itu telah tiba..._

🔖 DIBUKA Penerimaan Santri Baru Kajian Online HSI ABDULLAHROY berbasis Website untuk angkatan 182.

💻 Daftarnya disini yak, https://daftar.abdullahroy.com

📍 *KUOTA PESERTA TERBATAS*...!

📚 Yuks... Belajar Islam dari Dasar bareng Kajian Online HSI AbdullahRoy

🎙 Diasuh langsung oleh Ustadz Dr. Abdullah Roy, M.A. hafidzahullahu ta'ala _(beliau adalah Pemateri Tetap Kajian Berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, Madinah, periode 1434-1438H)_, in syaa ALLAH akan banyak faedah ilmu yang bisa antum dapatkan.

📱 Pembelajaran menggunakan media WhatsApp.

💻 Daftarnya disini yak, https://daftar.abdullahroy.com

🗓 *CATAT TANGGALnya*

📃 Pendaftaran mulai _*23 Syawwal 1439H (7 Juli 2018), pkl 09.00 WIB hingga 25 Syawwal 1439H (9Juli 2018), pkl 12.00 WIB.*_ dan akan *ditutup sewaktu-waktu* jika quota peserta telah terpenuhi.

📍 *KUOTA PESERTA TERBATAS*...!
• Jadi jangan ditunda...

👋 Ajak keluarga, saudara antum untuk ikutan daftar yak.

📲 *AJA KELALEN...!*

-------------------------

🖥 Yuk ikutan *SUBCRIBE* Channel YouTube HSI ABDULLAHROY di https://www.youtube.com/c/hsiabdullahroy

Kamis, 10 Mei 2018

AIR MATA RAMADHAN

✅ AIR MATA RAMADHAN

✔ Summary Kajian Akbar.
Masjid Istiqlal.
Kamis 24 Sya’ban 1439H/ 10 Mei 2018

Dr Firanda A/ Dr Sufyan Baswedan/ Dr Syafiq Basalamah/

ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„ّู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠْู…ِ

1. Langkah-langkah kaki para penuntut ilmu adalah langkah orang yang didoakan malaikat, para penggiat jihadi di jalan ilmu.

2. Kewajiban semua muslim untuk meluaskan ilmu islam ditengah redupnya akhlak, berdakwah, layaknya seperti menumbuhkan pohon hijau di tengah gurun pasir.


✅ MATERI 1:
Fiqh Praktis Ramadhan.
(Dr Firanda Andirja).

1. Ramadhan adalah ibadah puasa. Disampaikan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hadirs qudshi

Kenapa spesial?

Diantaranya:
A. Puasa adalah ibadah yang selamat dr riya. Karena tak terlihat.

B. Allah memberikan balasan kepada yang puasa, pahala yang hanya Allah yang tau besarnya.

2. Jangan berpuasa ramadhan yang diragukan sudah masuk ramadhan atau belum. Harus yakin masuknya Ramadhan.

Bagaimana melihat kepastian mulai ramadhan?

Caranya: melihat hilal.
Kalo masih belum terlihat hilal?
Maka genapi bulan sya’ban dengan 30 hari.

3. Niat Puasa Ramadhan.
Wajib bagi seorang yang berpuasa ramadhan untuk melakukan niat. Catatan: Niat adalah ibadah hati.

Puasa ramadhan niatnya harus dilakukan sebelum melalukan berpuasa. Tidak bisa setelah setelah waktu subuh.

Sementara puasa sunnah bisa berniat dilakukan di siang hari saat menjalankannya.  Ditengah tengah hari saat menjalankannya. Walau pahalanya akan dimulai dihitung saat ia melakukan niatnya.
Demikian beda niatnya.

Puasa wajib, tidak bisa dibatalkan kecuali ada udzhur syar’i

Puasa sunnah boleh kapan saja

4. Bolehkah niat berpuasa ramadhan sebulan penuh?
Ada khilaf ulama disini.

Ada ulama yg berpendapat Boleh.
Dan ada yang tidak.
Namun untuk kehati2an lebih baik niat dilakukan setiap hari.

5. Sahur.
Waktu sahur adalah menjelang subuh. Menjelang adzan. Bukan pk 2 atau 3 malam misalnya.

Batas selesai sahur?
Sangat dekat dengan waktu adzan Subuh sampai masuk waktu adzan.

Sampai kapan boleh makan?
Sampai terdengar adzan subuh.

Lalu sebaik2 Bersahur sesuai sunnah adalah dilakukan berjama’ah.
Bersama2.
Bukan sendiri2.

Kesalahan banyak masyarakat indonesia adalah berhenti makan minum saat masuk waktu yang sering disebut imsak.

Seluruh kegiatan makan minum atau menggauli istrinya harus berhenti saat pertama suara adzan telah terdengar.

6. Siang hari saat Berpuasa

Pembatal puasa:
Makan. Minum. Menggauli istri.
Melakukannya berdosa besar.

Kecuali ia tidak sengaja/lupa,
bahkan walaupun makan minumnya banyak.
Itulah rezeki yang Allah tetapkan untuknya.
Ia bisa melanjutkan puasanya.
Berlaku hal yang sama dengan menggauli istri.

7.  Adab Berbuka.
Disunnahkan berbuka dengan sesegera mungkin disaat matahari telah tenggelam, atau telah terdengar adzan maghrib.

Jangan lupa untuk berdoa menjelang berbuka puasa.

Selama berpuasa adalah waktu terbaik untuk berdoa. Namun waktu terbaik adalah menjelang waktu berbuka. Puncak rasa lapar dan rasa letih.

8. Adab Shalat Tarawih.

Jumlah raka’at shalat tarawih tidak lah terbatas. Demikian jumhur ulama.
11 atau 23 raka’at adalah yang terbaik. Dua raka’at dua raka’at.

11 raka’at dilaksanakan dengan bacaan surah2 yang panjang.

Sedangkan 23 raka’at dilaksanakan dengan bacaan surah yang pendek. Hal ini untuk mengantisipasi orang yang tidak mampu berdiri lama karena usia atau sakit.

Waktu shalat tarawih?
Selesai shalat isya jika berjama’ah. Diakhirkan jika dilakukan sendiri.

Jumlah raka’at shalat tarawih adalah tidak terbatas. Kecuali shalat witirnya. Hanya ada satu shalat witir pada satu malam.

Maka,
Jika selesai shalat tarawih berjama’ah di masjid maka tengah malam bisa melaksanakan lagi shalat malam di rumah. Namun pelaksanaan shalat witirnya cukup skali saja saat di masjid. Atau di rumah.


✅ MATERI 2:
Hadits2 Palsu terkait Ramadhan.
(Dr Sufyan Baswedan)

1. Semangat melaksanakan Ramadhan harus dilaksanakan dengan niat yang ikhlas dan ILMU yang benar.

Ibadah Ramadhan harus dijalankan dengan landasan/hujjah2 dalil yang shahih dan JANGAN berpegang pada hadits yang lemah/dhaif atau bahkan palsu.

2. Sikap paling baik pada hadits, terutama yang berisi tentang membolehkan sesuatu, atau larangan terhadap sesuatu, atau yang berisi siksaan, adalah berhati hati dan seksama meneliti keshahihannya.

Jangan bermudah2an menyikapi. Dan Jangan menyebarkannya hingga mendapat kepastian soal keshahihan hadits tersebut.

3. Sanad dan Matan hadits sebaiknya lengkap disebut.

Jika sanad tidak ada, atau tidak jelas, maka bertanyalah kepada para ahli hadits sebelum melaksanakan atau menyebarkannya.

4. Orang yang menyebarkan hadits dhaif akan berpotensi melakukan berdosa besar.

Karena seolah mengatas namakan Allah atau Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam padahal tidak. Dan apalagi bila ada orang meyakini kebenaran sesuatu yang berasal dr kita itu padahal berdasar hadits dhaif.

Tidak bisa orang menentukan kesunnahan atau kemakruhan sesuatu, atau menyampaikan fadilah sebuah hadits, tanpa berhujjah pada hadits yang telah sungguh sungguh jelas keshahihannya.

Tidak ada seorang ulama salaf yg membolehkan sesuatu yang berasal dari hadits yang dhaif.

Bahaya menyebarkan sebuah hadits yg dinisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam, namun ternyata sebuah hadits dhaif atau bahkan palsu, terancam akan masuk neraka.

Maka Berhati hatilah.
Jika kita belum dapat kepastian keshahihan sebuah hadits maka:
JANGAN MENYEBARKANNYA.

Bahkan yang dengan sengaja melakukannya berpotensi murtad!  Keluar dari Islam.

5. Hadits bermaaf2an sebelum Ramadhan.

Hadits ini DHAIF. Atau bahkan PALSU.

Matannya (textnya) tidak ada dalam semua kitab hadits shahih.
Apalagi sanad (sumber) haditsnya.

Hadits yang digunakan adalah yg menyatakan Rasulullah mengaminkan doa Malaikat Jibril yang menyampaikan bahwa tidak diterima orang yang tidak bermaafan sebelum masuk Ramadhan.

Hadits ini tidak ditemukan dalam semua kitab hadits shahih.

Walau,

Bermaafan adalah memang sebuah hal yang mulia. Namun bisa dilakukan kapan saja.
Termasuk menjelang ramadhan.
Atau kapan saja. Inilah ibadah muamalah hasanah.

Maka bermaafan sebelum ramadhan dapat dilakukan. Walau harus berlandaskan hadits shahih yang mengatakan bahwa orang tidak akan diterima amalannya selama masih bermusuhan dengan sesama muslim lainnya, dengan saudaranya.

6. Hadits tentang tidur saat berpuasa sama nilainya dengan ibadah.

Sanad hadits ini tidak jelas.

Kecuali tidur diniatkan untuk berharap pahala, misal: tidur untuk bersiap melaksanakan shalat malam

7. Hadits yang mengatakan 10 pertama ramadhan adalah untuk ini,
10 hari kedua Ramadhan untuk itu, dan 10 hari Ramadhan adalah untuk ini.

Membagi2 Ramadhan dengan tiga bagian masing2 10 hari Ramadhan.

Hadits ini adalah PALSU. Bahkan sebagian ulama menyatakan hadits ini adalah Mungkar.

8. Hadits yang menyatakan bahwa ibadah sunnah selama Ramadhan lebih baik dari ibadah wajib selama bulan selain ramadhan.

Ini hadits DHAIF.
Tidak benar.

Ibadah wajib selama bulan selain Ramadhan tidak terkalahkan atau tergantikan dengan ibadah sunnah selama ramadhan.

9.  Hadits yang mengatakan bahwa berghibah selama ramadhan dapat membatalkan puasanya.

Hadits ini DHAIF. Mungkar.

10. Hadits yang berisi bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam seolah berkata bahwa batal puasa bahkan batal
Wudhunya orang yang melihat dengan syahwat seorang akhwat, berkata kotor, berghibah

Ini hadits mungkar. DHAIF.

Walaupun,

Puasa sambil berghibah tentu tidak baik. Pahalanya berbeda.
Bahkan ada ulama yang mengatakan batal.
Walau tidak bersandar pada hadits2 palsu diatas.

Maksiat2 kecil tidak membatalkan puasa.
Sehingga tidak perlu diganti puasanya.
Namun,
dapat mengurangi atau bahkan membatalkan puasanya.


✅ MATERI 3:
Kemuliaan Ramadhan.
(Dr Syafiq R Basalamah).

1. Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam adalah manusia paling mulia, dan paling dermawan, dan paling khusyuk sungguh2 beribadah dan puncaknya?
Bulan Ramadhan.

2. Apa yang menyebabkan orang mau hadir pada kajian pagi ini?
Karena menanti bulan Ramadhan.
Tamu yang mendatangkan jutaan rahmat Allah dan pahala Allah.

3. Tidak ada orang baik, kecuali orang yang mudahkan ia menjadi orang baik.
Kita bisa menjadi baik, termasuk selama Ramadhan, semata karena rahmat Allah.  Bukan karena dia sendiri

4. Ziarah Kubur bisa dilaksanakan kapan saja. Sebelum atau sesudah Ramadhan. Siang atau malam hari.

Ziarah kubur melembutkan hati, meneteskan air mata. Untuk ingat mati. Mengambil pelajaran dari kematian. Menjadi lebih giat beribadah.

Walau banyak juga orang yang berziarah kubur karena nyaleg, atau berharap sesuatu dr kubur. Inilah keburukan ziarah kubur.

8.  Ramadhan datang untuk mengetest kecerdasan manusia.

Orang yang cerdas, pandai dan bijak akan berbeda.
Dari orang2 yang lupa sama Allah. Orang2 yang tidak tau diri atas segala nikmat Allah.

9. Ada satu malam di Ramadhan yang jika ia dihalangi Allah darinya maka ia dihalangi dari kebaikan.

Malam Lailatul Qadr.
Malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Lebih baik dari kebaikan sepanjang hari selama 30,000 hari (82 tahun).

Malam bonus pahala. Yang Allah berikan hanya kepada orang2 yang Allah anggap layak menerimanya.

Orang2 yang sungguh beribadah. Orang2 yang menjalankan ibadah dengan sungguh2.

Sayangnya banyak yang melupakan malam istimewa ini. Malah sibuk di pasar, di Mall. Belanja.

10. Allah mensyariatkan kita ibadah Ramadhan agar kita terjauh dr dunia.
Puasa untuk menjaga perut dan syahwat kita dari urusan dunia.

Allah berfirman,
Puasa itu untuk ku, buatku.

11. 3 (Tiga) hal yang harus dilalukan sebelum Ramadhan:

A. Hati yang lalai dan Akal yang sombong.

Obati dengan bertaubat, memohon ampun kepada Allah.
Persiapannya:

a. Persiapan Perasaan.
Tumbuhkan kegembiraan dengan datangnya Ramadhan.

b. Persiapan Rohani.
Bersiap2 sungguh dalam niat.
Belajar ilmu tentang syariat islam.
Ia berharap sungguh2 ampunan Allah dan pahala Ramadhan

c. Persiapan akal.
Belajar ilmu tentang syariat islam termasuk ramadhan. Baca kitab2nya.

d. Persiapan Fisik.
Kondisi fisik disiapkan. Karena puasa juga ibadah fisik. Latihan berpuasa. Misal selama sya’ban.
Orang yang biasa puasa sunnah akan beda dengan puasa Ramadhan.

B. Meninggalkan Dosa.
Banyak Beristighfar.

Banyak2 berdzikir sebelum ramadhan. Agar bisa menikmati puasa.

Orang2 yang berbuat dosa akan tertinggal noda hitam di hatinya. Bertambah dosa bertambah bernoda.

Banyak2lah istighfar.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wa Sallam sebelum, sepanjang dan sesudah Ramadhan tidak pernah berhenti beristighfar.

Jika kita niat bangun malam, untuk bertahajud. Tapi ga bisa bangun malam.
Ini karena dosa2nya.

C. Meninggalkan dendam dan dengki.

Mohon ampunan dan bersihkan hati dari segala dendam dan dengki apalagi kepada saudara sendiri.

Bermohon maafan kepada sesama muslim setiap saat. Setiap waktu.
Agar silaturahim dan ukhuwah sesama muslim dapat lebih luas dan kuat lagi.

Penutup:
Bulan Ramadhan adalah waktu nya bagi semua muslim untuk menunjukkan diri kepada Allah bahwa ia seorang mukmin, seorang hamba Allah sejati.

✅ TANYA JAWAB:

1. Waktu sahur adalah ia mengikuti tempat dimana ia berada.
Waktu berbuka adalah ia mengikuti tempat ia berada saat waktu berbuka tiba.

Waktu orang yg dipesawat mengikuti dimana pesawat itu sedang berada.

2. Orang dalam keadaan junub tetap boleh berpuasa sesuai waktu puasa.
Namun untuk melaksanakan shalatnya ia tetap harus berjunub.

3. Dalam islam, hak hamba diperhatikan, walau masih janin.
Maka jika ada kemudharatan dalam keadaan hamil untuk berpuasa maka ia sebaiknya tidak berpuasa.

Bagaiman mengqadhanya?
Ganti dengan berpuasa. Kapan?
Saat ia telah siap melaksanakannya walau telah lewat setahun - misal karena tahun depannya ia masih menyusui.

4. Shalat sunnah tarawih bersama imam adalah bagian dr syiar Islam.
Maka lalukan mengikuti imam.
Sampai selesai imam melaksanakannya dengan lengkap.

5. Shalat malam/tarawih laksanakan di tempat yang shalat yang melaksanakannya dengan khusyuk. Tidak cepat2. Tidak tu’maninah. Walaupun sedikit lebih jauh dr rumah.

6. Bayi dianggap ada nyawa setelah empat bulan. Jika bayi meninggal sebelum empat bulan dan keguguran maka hal ini tidak dianggap sebagai waktu nifas bagi ibunya.

7. Jika dalam keadaan sendiri, godaan syaitan makin kuat. Bagaimanakah menanggulanginya?

Fahamkan bahwa Allah Maha Melihat dan yakini Allah sedang mengawasi kita.
Jika kita tidak bisa melakukannya maka hadirkan diri di Masjid. Dirumah Allah.

Semua kenikmatan beribadah, jauh lebih nikmat dr segala kenikmatan maksiat.

=====

Semoga bermanfaat. Barakallah fiikum.

Dirangkum oleh: AbuIslamadina.

Disclaimer:
“Jika ada kesalahan pada rangkuman maka semata hal itu berasal dari kelemahan perangkum,Dan bukan dari materi kajian, atau dari Ustadz pemberi materi. Semoga Allah dan pembaca rangkuman, memaafkan perangkum”.

Selasa, 24 April 2018

SALAFY

Salaf secara bahasa maknanya adalah orang-orang yang mendahului kita. Sedangkan secara istilah adalah 3 generasi terbaik yang telah dijamin kebaikannya oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam, yaitu para Sahabat Nabi, Tabiin, dan atbaaut Tabiin
Seseorang yang mengikuti manhaj Salaf adalah orang yang berusaha memahami al-Quran dan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam dengan pemahaman para Ulama Salaf. Mereka mengikuti bimbingan para Ulama Salaf dalam menjalani ajaran Dien ini.
Bukan artinya mereka fanatik pada individu-individu Ulama Salaf tersebut, karena secara person tiap mereka (selain Nabi) tidaklah maksum (terjaga dari kesalahan). Namun, jika Ulama Salaf telah sepakat (ijma’) tentang suatu permasalahan Dien, maka ijma’ mereka itu tidak akan pernah salah. Karena umat Nabi Muhammad shollallahu alaihi wasallam tidak akan pernah bersepakat dalam sebuah kesalahan/ kesesatan. Para Ulama Salafus Sholih adalah ‘al-Jamaah’ yang harus diikuti.

Minggu, 17 Desember 2017

*Bid’ah Apakah Benar Ada Lima?*

๐Ÿ“’ Bid’ah Apakah Benar Ada Lima?

Pertanyaan :

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ّู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชู‡

Ustadz, saya pernah menonton acara ceramah di televisi, pemateri mengatakan kalau bid’ah itu ada lima. Mohon penjelasannya, Ustadz. Syukron.

(Dari Hamba Alloh Anggota Grup WA Bimbingan Islam)

Jawaban :

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑ ูƒุงุชู‡

Pembagian tersebut TIDAK BENAR dan BANYAK mengandung KONTRADIKSI.

Sebagian ulama berpendapat bahwa bid’ah terbagi menjadi lima sebagai berikut:

1. Bid’ah Wajibah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil diwajibkannya sesuatu dalam syariat. Contohnya pembukuan Al Qur’an dan hadits Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam ketika dikhawatirkan keduanya akan tersia-siakan. Berhubung menyampaikan risalah Islam kepada generasi berikutnya adalah suatu kewajiban menurut ijma’, dan mengabaikan hal ini hukumnya haram menurut ijma’, karenanya hal-hal seperti ini mestinya tidak perlu diperselisihkan lagi bahwa hukumnya wajib.

2. Bid’ah Muharramah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil diharamkannya sesuatu dalam syariat. Contohnya berbagai bentuk pajak dan upeti, demikian pula setiap bentuk kezhaliman yang bertentangan dengan norma-norma agama, seperti penyerahan jabatan secara turun temurun kepada orang yang bukan ahlinya (nepotisme).

3. Bid’ah Mandubah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil dianjurkannya sesuatu dalam syari’at. Contohnya shalat tarawih berjama’ah.

4. Bid’ah Makruhah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil dimakruhkannya sesuatu dalam syari’at. Contohnya mengkhususkan beberapa hari yang dimuliakan dengan jenis ibadah tertentu, seperti larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa hari Jum’at secara khusus, atau qiyamullail pada malamnya; demikian pula menambah bilangan tertentu dalam wirid dengan sengaja, seperti menjadikan tasbih, tahmid dan takbir selepas shalat menjadi masing-masing 100 kali, dan semisalnya.

5. Bid’ah Mubahah: yaitu setiap bid’ah yang sesuai dengan kaidah-kaidah dan dalil-dalil dibolehkannya sesuatu dalam syari’at. Seperti menggunakan ayakan (penapis) gandum sebagai usaha memperbaiki taraf hidup, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah atsar bahwa hal pertama yang diada-adakan setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat adalah menggunakan ayakan gandum. Hal ini dibolehkan karena ia merupakan sarana untuk memperbaiki taraf hidup yang hukumnya boleh.

Kaidah-kaidah penting dalam hal ini

Sebelum masuk ke pokok permasalahan, ada beberapa kaidah yang harus kita camkan terlebih dahulu dalam menyikapi pendapat para ulama agar kita tidak terjerumus ke dalam taklid buta, yaitu sebagai berikut:

1. Berdasarkan ijma’ para ulama, tidak ada seorang pun setelah para sahabat yang pendapatnya menjadi hujjah dalam masalah agama. Adapun para sahabat, maka pendapat mereka masih diperselisihkan apakah cukup kuat untuk dijadikan hujjah ataukah tidak. Sedangkan pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini ialah bahwa pendapat sahabat adalah hujjah dengan syarat-syarat dan kondisi tertentu.

2. Setiap ulama bisa benar dan bisa salah dalam berpendapat, dan yang menjadi patokan dalam masalah ini adalah dalil syar’i. Mereka hanyalah berijtihad yang bila benar mendapat dua pahala, namun bila salah mendapat satu pahala sedangkan kesalahannya diampuni. Akan tetapi kesalahan mereka tetap tidak boleh diikuti setelah kita mengetahuinya.

3. Berdasarkan ijma’ para ulama, siapapun yang telah jelas baginya ajaran/hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkan hadits tersebut karena mengikuti pendapat orang lain, siapapun orangnya.

Berangkat dari kaidah-kaidah ini, marilah kita nilai sejauh mana kebenaran pembagian bid’ah menjadi lima tadi.

Pertama: jelas sekali bahwa pembagian bid’ah menjadi lima tadi adalah pendapat segelintir ulama yang baru muncul sekian abad setelah generasi sahabat, karenanya ia tidak menjadi hujjah.

Kedua: pendapat tersebut bertentangan dengan hadits-hadits yang mencela setiap bentuk bid’ah. Di

samping itu, pembagian bid’ah menjadi lima tersebut saling bertolak belakang, yang menunjukkan akan batilnya pembagian tersebut.

Imam Asy Syathiby mengatakan, “Bagaimana mungkin sesuatu yang sesuai dengan dalil syar’i dinamakan bid’ah, sedangkan di antara hakikat bid’ah itu sendiri ialah: sesuatu yang tidak sesuai dengan dalil syar’i maupun kaidah-kaidahnya? Sebab jika di sana ada kaidah atau dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah mubah, atau mandub (dianjurkan), atau wajib; niscaya tidak akan pernah ada bid’ah dalam agama. Oleh karena itu, pendapat yang di satu sisi mengatakan bahwa hal tersebut merupakan bid’ah, lalu secara bersamaan mengatakan bahwa dalil-dalil syar’i mengarah kepadanya; adalah pendapat yang menggabungkan antara dua hal yang saling bertolak belakang”.

Ketiga: Apakah dibenarkan bagi seorang muslim setelah mendengar sabda Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa semua bid’ah (dalam agama) adalah sesat, kemudian ia meninggalkannya karena di sana ada sejumlah ulama yang menganggap adanya bid’ah mubahah, mandubah, atau wajibah??

Ada sebuah pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mi’raj ke langit… di sana, beliau sempat melihat beberapa Nabi yang terdahulu. Di antara mereka ada yang pengikutnya hanya sekitar tiga sampai sembilan orang; ada pula yang hanya dua orang; ada yang satu; bahkan ada Nabi yang tak punya pengikut sama sekali.

Artinya; kebenaran BUKAN diukur dari banyak-sedikitnya (kuantitas, -ed) pengikut. Meskipun orang sejagat menolaknya, yang namanya kebenaran tetap kebenaran di sisi Allah Ta’ala.

ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุฃุนู„ู…

Konsultasi Bimbingan Islam
Dijawab oleh Ustadz Dr. Sufyan Baswedan Lc MA

Sumber: https://bimbinganislam.com/bid-ah-ada-lima/