Bacaan manis dan bernutrisi buat para orang tua dan calon orang tua
Prinsip2 Dasar ttg Anak
Oleh : Ustad Rahmat Abdullah (alm)
1. Anak2mu bukan pilihanmu,mereka menjadi anak2mu,bukan karena keinginan mereka,tetapi karena takdir Allah. Lihat QS.28:68, QS.42:49-50.
2. Karena apa yg Allah takdirkan untukmu,maka itulah amanah yg harus ditunaikan. Lihat QS.8:27-28.
3. Orangtua lah yg ingin memiliki anak dan keinginanmu adalah janjimu kpd Allah. Maka tepatilah janjimu karena akan Allah minta pertanggungjawabannya. Lihat QS.5:1, QS.17:34, QS.13:19-24.
4. Allah tidak membebanimu melampaui kemampuanmu,maka bersungguh2lah. Lihat QS.2:233, QS.64:16, QS.3:102, QS.22:78.
5. Allah tidak mewajibkanmu membentuk anak2mu mahir dlm segala hal, tetapi Allah mewajibkan membentuk anak2 yg sholeh terbebas dari neraka. Lihat QS.66:6, QS.46:15.
6. Jangan berharap kebaikan dari anak2mu,bila tidak mendidik mereka menjadi anak2 yg sholeh. Lihat QS.11:46, QS.19:59.
7. Jangan berharap banyak pada anak2mu,bila kamu tidak mendidik mereka sebagaimana mestinya. Lihat QS.17:24.
8. Didiklah anak2mu sesuai fitrahnya. Lihat QS.30:30.
9. Janganlah menginginkan anak2mu sebagai anak2 yg sholeh sebelum engkau menjadi sholeh lebih dahulu. Lihat QS.61:2, QS.66:6.
10. Janganlah menuntut hakmu dari anak2mu,sebelum engkau memberi hak anak2mu. Lihat QS.1:5.
11. Janganlah engkau menuntut hakmu dari anak2mu,sampai engkau memenuhi hak2 Allah atasmu. Lihat QS.2:83, QS.4:36, QS.6:151, QS.17:23-24.
12. Berbuat baiklah pada anak2mu,bahkan sebelum mereka diciptakan.
13. Janganlah engkau berpikir tentang hasil akhir dari usahamu mendidik,tetapi bersungguh2lah dalam mendidik. Lihat QS.11:93.
14. Janganlah berhenti mendidik sampai kematian memisahkanmu. Lihat QS.15:99.
Semoga bermanfaat
Jumat, 12 Mei 2017
TIGA RENUNGAN DARI NISHFU SYA'BAN
PERTAMA: ORANG YANG SUKA AMALAN BID'AH, BANYAK YANG SUKA MENGHUJAT DAN ANTI KRITIK
Ketika sebagian orang memunculkan cara-cara baru dalam beribadah kepada Allah, termasuk mengada-adakan amalan khusus di malam Nishfu Sya'ban maka para ulama pun menjelaskan kesalahan amalan-amalan tersebut dan kelemahan bahkan kepalsuan hadits-hadits yang mereka jadikan sandarannya.
Namun tidak sedikit yang menolak keras dan mengeluarkan kata-kata kotor serta menghujat orang yang mengkritik amalan mereka, seakan mereka dan tokoh yang mereka ikuti tidak mungkin salah. Seharusnya kalau mau membantah maka bantahlah dengan ilmiah dan adab yang baik. Anehnya mereka masih menuduh orang lain yang bersikap keras dan suka menghujat.
Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ
"Seorang mukmin itu bukan orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berkata dan berperilaku keji, dan bukan orang yang suka berkata kotor.” [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 320]
KEDUA: BANYAK ORANG LATAH MENYEBARKAN HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU
Tidak sedikit kaum muslimin yang latah menyebarkan hadits-hadits tentang keutamaan menyambut bulan Sya'ban dan amalan khusus Nishfu Sya'ban serta amalan-amalan lainnya yang hanya berdasarkan hadits-hadits lemah dan palsu, tanpa berusaha memastikan kesahihan hadits-hadits tersebut terlebih dahulu.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di neraka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
"Barangsiapa menyampaikan hadits atas namaku padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]
KETIGA: TIDAK MEMAHAMI HAKIKAT DAN BAHAYA BID'AH
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ngadakan perkara baru dalam agama kami ini yang bukan daripadanya, maka itu tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Dalam riwayat Muslim,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Baca Selengkapnya:
https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/795104617305689:0
Artikel Terkait:
https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/794166727399478:0
http://sofyanruray.info/hukum-perayaan-yasinan-dan-sholat-khusus-di-malam-nishfu-syaban/
PERTAMA: ORANG YANG SUKA AMALAN BID'AH, BANYAK YANG SUKA MENGHUJAT DAN ANTI KRITIK
Ketika sebagian orang memunculkan cara-cara baru dalam beribadah kepada Allah, termasuk mengada-adakan amalan khusus di malam Nishfu Sya'ban maka para ulama pun menjelaskan kesalahan amalan-amalan tersebut dan kelemahan bahkan kepalsuan hadits-hadits yang mereka jadikan sandarannya.
Namun tidak sedikit yang menolak keras dan mengeluarkan kata-kata kotor serta menghujat orang yang mengkritik amalan mereka, seakan mereka dan tokoh yang mereka ikuti tidak mungkin salah. Seharusnya kalau mau membantah maka bantahlah dengan ilmiah dan adab yang baik. Anehnya mereka masih menuduh orang lain yang bersikap keras dan suka menghujat.
Rasulullah shallallaahu'alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الفَاحِشِ وَلاَ البَذِيءِ
"Seorang mukmin itu bukan orang yang suka mencaci, bukan orang yang suka melaknat, bukan orang yang suka berkata dan berperilaku keji, dan bukan orang yang suka berkata kotor.” [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 320]
KEDUA: BANYAK ORANG LATAH MENYEBARKAN HADITS-HADITS LEMAH DAN PALSU
Tidak sedikit kaum muslimin yang latah menyebarkan hadits-hadits tentang keutamaan menyambut bulan Sya'ban dan amalan khusus Nishfu Sya'ban serta amalan-amalan lainnya yang hanya berdasarkan hadits-hadits lemah dan palsu, tanpa berusaha memastikan kesahihan hadits-hadits tersebut terlebih dahulu.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah mengingatkan,
مَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, maka siapkan tempat duduknya di neraka." [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
مَنْ حَدَّثَ عَنِّى بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ
"Barangsiapa menyampaikan hadits atas namaku padahal dia menyangka bahwa itu adalah dusta maka dia termasuk salah satu pendusta.” [HR. Muslim dari Al-Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu’anhu]
KETIGA: TIDAK MEMAHAMI HAKIKAT DAN BAHAYA BID'AH
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengada-ngadakan perkara baru dalam agama kami ini yang bukan daripadanya, maka itu tertolak.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Dalam riwayat Muslim,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَد
“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” [HR. Muslim dari Aisyah radhiyallahu’anha]
Baca Selengkapnya:
https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/795104617305689:0
Artikel Terkait:
https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/794166727399478:0
http://sofyanruray.info/hukum-perayaan-yasinan-dan-sholat-khusus-di-malam-nishfu-syaban/
Selasa, 09 Mei 2017
SEPUTAR BULAN SYA'BAN
Bismillaah.
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga selalu Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam, pada keluarga Beliau, para shahabat serta orang-orang yang mengikuti Beliau sampai hari kiamat kelak.
PERBUATAN YANG MENGADA-ADA DI DALAM BULAN SYA'BAN
Apa arti "mengada-ada" ? Mengada-ada yaitu :
√ Belum ada contohnya,
√ Belum ada syari'atnya,
√ Belum ada dalilnya,
√ Tidak disyari'atkan dalam Islam.
TUJUAN MENYEBUTKAN PERKARA INI :
⑴ Bukan ingin menyalah-nyalahkan kaum Muslim, bukan sok pintar atau bukan sok benar.
⑵ Ingin menasehati kaum muslim jika ada yang keliru karena kita sayang kepada kaum muslim, kita mencintai sesama muslim.
⑶ Bukan ingin memecah-belah diantara kaum muslim, bahkan ingin menyatukan kaum muslimin dengan beribadah hanya yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.
Perkara yang mengada-ada pertama di dalam bulan Sya'ban adalah :
☑ Mengkhususkan berpuasa di hari pertengahan bulan Sya'ban atau ibadah di malam hari pada pertengahan bulan Sya'ban.
☑ Jadi, siangnya berpuasa kemudian malamnya beribadah tertentu, itu belum ada contohnya, ini perkara yang mengada-ada.
Hadits pertama :
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu beliau berkata :
"Diriwayatkan (kata "diriwayatkan" di sini menunjukkan kelemahan)"
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا
Jika pada pertengahan bulan Sya'ban maka malamnya beribadahlah, siangnya berpuasalah. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia di malam nisfu Sya'ban sampai terbenam matahari.
Kemudian Allah berfirman :
فَيَقُولُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Adakah yang minta ampun kepada-Ku, Aku langsung ampuni dia.
Adakah yang meminta rizki kepada-Ku, Aku berikan rizki kepada dia.
Adakah seseorang yang terkena penyakit kemudian dia minta sehat kepada-Ku, Aku akan sehatkan dia.
Adakah....adakah....adakah...
Sampai waktu subuh."
Hadits ini maudhu' (palsu), kenapa ?
Karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Abu Bakar bin Abdillah.
⏩ Imam Ahmad mengatakan, Abu Bakar bin Abdillah sering memalsukan hadits. Imam Bukhari dan Imam Ahmad mengatakan seperti itu.
⏩ Imam Nasai mengatakan matruk, perawi ini ditinggalkan oleh ahli hadits karena sangat suka memalsukan hadits. Jadi haditsnya palsu.
⏩ Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa dia adalah seorang perawi yang sering meriwayatkan hadits-hadits palsu.
Amalan yang mengada-ada dalam Islam dalil nya tidak lebih dari 3 hal :_
① Hadits palsu,
② Hadits lemah atau
③ Hadits shahih tetapi salah penempatan.
Kemudian hadits yang lain yang sering dipakai dan terdapat dalam kitab Kanzul Ummal :
"Barang siapa yang menghidupkan malam Idul 'Ad-ha, Idul Fithr dan malam nisfu Sya'ban maka hatinya tidak akan mati ketika hari-hari semua hati mati."
⏩ Derajat hadits ini adalah hadits yang mudhtharib (hadits yang lemah sekali) karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Marwan bin Salim.
⏩ Imam Ahmad mengatakan, Marwan bin Salim ini "laisa bi tsiqah" (Orang yang tidak bisa dipercaya).
⏩ Imam Ad Daruquthni mengatakan, matrukul, orang ini ditinggalkan haditsnya.
⏩ Yahya ibnu Said Al Qaththan, seorang ulama hadits , mengatakan : laisa bi syai', perawi ini tidak ada harganya.
Ada lagi hadits yang ke-3 yang berkenaan denganmengkhususkan amalan pada malam nisfu Sya'ban.
Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabbal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :
"Barang siapa yang menghidupkan 5 malam, maka wajib baginya mendapatkan surga, yaitu malam hari tarwiyyah (tanggal 7 malam 8 dari bulan Dzulhijjah) malam hari arafah (malam ke 9 bulan Dzulhijjah), malam hari Idul Adh-ha, malam hari Idul Fithr dan malam nisfu Sya'ban."
Hadits ini adalah hadits yang di dalamnya ada perawi yang matruk sehingga bisa dikategorikan hadits yang maudhu atau lemah sekali.
Di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Abdurrahman bin Zaid Al Ammi, kata Yahya bin Said Al Qaththan : kadzab, tukang dusta.
Dan kalau didalam hadits ada seorang perawi yang kadzab, itu pasti hadits palsu.
Dan Imam Nasai mengatakan matruk, hadits ini adalah lemah sekali.
Kemudian juga di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Suwaib ibn Said, dia dhaif, seorang perawi yang lemah.
Jadi cacat hadits ini banyak sekali.
📝 Oleh : Ustadz Ahmad Zainuddin
bimbinganislam.com
Bismillaah.
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga selalu Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad shallallahu 'alayhi wa sallam, pada keluarga Beliau, para shahabat serta orang-orang yang mengikuti Beliau sampai hari kiamat kelak.
PERBUATAN YANG MENGADA-ADA DI DALAM BULAN SYA'BAN
Apa arti "mengada-ada" ? Mengada-ada yaitu :
√ Belum ada contohnya,
√ Belum ada syari'atnya,
√ Belum ada dalilnya,
√ Tidak disyari'atkan dalam Islam.
TUJUAN MENYEBUTKAN PERKARA INI :
⑴ Bukan ingin menyalah-nyalahkan kaum Muslim, bukan sok pintar atau bukan sok benar.
⑵ Ingin menasehati kaum muslim jika ada yang keliru karena kita sayang kepada kaum muslim, kita mencintai sesama muslim.
⑶ Bukan ingin memecah-belah diantara kaum muslim, bahkan ingin menyatukan kaum muslimin dengan beribadah hanya yang sesuai dengan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam.
Perkara yang mengada-ada pertama di dalam bulan Sya'ban adalah :
☑ Mengkhususkan berpuasa di hari pertengahan bulan Sya'ban atau ibadah di malam hari pada pertengahan bulan Sya'ban.
☑ Jadi, siangnya berpuasa kemudian malamnya beribadah tertentu, itu belum ada contohnya, ini perkara yang mengada-ada.
Hadits pertama :
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu beliau berkata :
"Diriwayatkan (kata "diriwayatkan" di sini menunjukkan kelemahan)"
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا. فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا
Jika pada pertengahan bulan Sya'ban maka malamnya beribadahlah, siangnya berpuasalah. Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia di malam nisfu Sya'ban sampai terbenam matahari.
Kemudian Allah berfirman :
فَيَقُولُ: أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Adakah yang minta ampun kepada-Ku, Aku langsung ampuni dia.
Adakah yang meminta rizki kepada-Ku, Aku berikan rizki kepada dia.
Adakah seseorang yang terkena penyakit kemudian dia minta sehat kepada-Ku, Aku akan sehatkan dia.
Adakah....adakah....adakah...
Sampai waktu subuh."
Hadits ini maudhu' (palsu), kenapa ?
Karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Abu Bakar bin Abdillah.
⏩ Imam Ahmad mengatakan, Abu Bakar bin Abdillah sering memalsukan hadits. Imam Bukhari dan Imam Ahmad mengatakan seperti itu.
⏩ Imam Nasai mengatakan matruk, perawi ini ditinggalkan oleh ahli hadits karena sangat suka memalsukan hadits. Jadi haditsnya palsu.
⏩ Imam Ibnu Hibban mengatakan bahwa dia adalah seorang perawi yang sering meriwayatkan hadits-hadits palsu.
Amalan yang mengada-ada dalam Islam dalil nya tidak lebih dari 3 hal :_
① Hadits palsu,
② Hadits lemah atau
③ Hadits shahih tetapi salah penempatan.
Kemudian hadits yang lain yang sering dipakai dan terdapat dalam kitab Kanzul Ummal :
"Barang siapa yang menghidupkan malam Idul 'Ad-ha, Idul Fithr dan malam nisfu Sya'ban maka hatinya tidak akan mati ketika hari-hari semua hati mati."
⏩ Derajat hadits ini adalah hadits yang mudhtharib (hadits yang lemah sekali) karena di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Marwan bin Salim.
⏩ Imam Ahmad mengatakan, Marwan bin Salim ini "laisa bi tsiqah" (Orang yang tidak bisa dipercaya).
⏩ Imam Ad Daruquthni mengatakan, matrukul, orang ini ditinggalkan haditsnya.
⏩ Yahya ibnu Said Al Qaththan, seorang ulama hadits , mengatakan : laisa bi syai', perawi ini tidak ada harganya.
Ada lagi hadits yang ke-3 yang berkenaan denganmengkhususkan amalan pada malam nisfu Sya'ban.
Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabbal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam bersabda :
"Barang siapa yang menghidupkan 5 malam, maka wajib baginya mendapatkan surga, yaitu malam hari tarwiyyah (tanggal 7 malam 8 dari bulan Dzulhijjah) malam hari arafah (malam ke 9 bulan Dzulhijjah), malam hari Idul Adh-ha, malam hari Idul Fithr dan malam nisfu Sya'ban."
Hadits ini adalah hadits yang di dalamnya ada perawi yang matruk sehingga bisa dikategorikan hadits yang maudhu atau lemah sekali.
Di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Abdurrahman bin Zaid Al Ammi, kata Yahya bin Said Al Qaththan : kadzab, tukang dusta.
Dan kalau didalam hadits ada seorang perawi yang kadzab, itu pasti hadits palsu.
Dan Imam Nasai mengatakan matruk, hadits ini adalah lemah sekali.
Kemudian juga di dalamnya ada seorang perawi yang bernama Suwaib ibn Said, dia dhaif, seorang perawi yang lemah.
Jadi cacat hadits ini banyak sekali.
📝 Oleh : Ustadz Ahmad Zainuddin
bimbinganislam.com
PUASA TIGA HARI SETIAP BULAN DAN PUASA AYYAMUL BIDH
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali. Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah). Puasa tersebut disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.
◾ Dalil Pendukung ◾
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: ❶ berpuasa tiga hari setiap bulannya, ❷ mengerjakan shalat Dhuha, ❸ mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”
(📓HR. Bukhari №. 1178)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”
(📓HR. Bukhari №. 1979)
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”
(📓HR. Tirmidzi №. 761 dan An Nasai №. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa haditsnya #hasan).
Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ (صلى الله عليه وسلم) يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).”
Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”
(📓HR. Abu Daud №. 2449 dan An Nasai №. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini #shahih)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”
(📓HR. An Nasai №. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini #hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini #hasan).
▶ Namun dikecualikan berpuasa pada tanggal 13 Dzulhijjah (bagian dari hari tasyriq). Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.
Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal sholih.
#Referensi:
Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bugho, dkk, terbitan Darul Qolam, cetakan kesepuluh, tahun 1431 H, hal. 357-358.
➖➖➖➖➖
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M. Sc
Artikel http://Muslim.Or.Id
بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Kita disunnahkan berpuasa dalam sebulan minimal tiga kali. Dan yang lebih utama adalah melakukan puasa pada ayyamul bidh, yaitu pada hari ke-13, 14, dan 15 dari bulan Hijriyah (Qomariyah). Puasa tersebut disebut ayyamul bidh (hari putih) karena pada malam-malam tersebut bersinar bulan purnama dengan sinar rembulannya yang putih.
◾ Dalil Pendukung ◾
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: ❶ berpuasa tiga hari setiap bulannya, ❷ mengerjakan shalat Dhuha, ❸ mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”
(📓HR. Bukhari №. 1178)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صَوْمُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ
“Puasa pada tiga hari setiap bulannya adalah seperti puasa sepanjang tahun.”
(📓HR. Bukhari №. 1979)
Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya,
يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).”
(📓HR. Tirmidzi №. 761 dan An Nasai №. 2425. Abu ‘Isa Tirmidzi mengatakan bahwa haditsnya #hasan).
Dari Ibnu Milhan Al Qoisiy, dari ayahnya, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ (صلى الله عليه وسلم) يَأْمُرُنَا أَنْ نَصُومَ الْبِيضَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ . وَقَالَ هُنَّ كَهَيْئَةِ الدَّهْرِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa memerintahkan pada kami untuk berpuasa pada ayyamul bidh yaitu 13, 14 dan 15 (dari bulan Hijriyah).”
Dan beliau bersabda, “Puasa ayyamul bidh itu seperti puasa setahun.”
(📓HR. Abu Daud №. 2449 dan An Nasai №. 2434. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini #shahih)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada ayyamul biidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar.”
(📓HR. An Nasai №. 2347. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini #hasan. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini #hasan).
▶ Namun dikecualikan berpuasa pada tanggal 13 Dzulhijjah (bagian dari hari tasyriq). Berpuasa pada hari tersebut diharamkan.
Semoga sajian singkat ini bermanfaat.
Hanya Allah yang memberi taufik untuk beramal sholih.
#Referensi:
Al Fiqhu Al Manhaji ‘ala Madzhabil Imam Asy Syafi’i, Dr. Musthofa Al Bugho, dkk, terbitan Darul Qolam, cetakan kesepuluh, tahun 1431 H, hal. 357-358.
➖➖➖➖➖
Penulis: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, M. Sc
Artikel http://Muslim.Or.Id
Langganan:
Komentar (Atom)