Jumat, 29 September 2017

SEBAB-SEBAB FUTUR DALAM THOLABUL ILMI

SEBAB-SEBAB FUTUR DALAM THOLABUL ILMI

(Futur : melemah setelah sebelumnya semangat, adm.)

1⃣. Pertama:
Lemahnya semangat dan tekad untuk belajar.

Setiap kali bertambah belajarnya, semestinya bertambah pula semangatnya karena berarti ia telah mendapatkan tambahan ilmu. Dengan demikian ia pun gembira layaknya seorang pedagang yang bergembira ketika mendapatkan keuntungan, sehingga bertambahlah semangat si pedagang tadi untuk meraih nilai keuntungan yang lebih besar.

Demikian pula semestinya bagi penuntut ilmu, selama ia bersungguh-sungguh dan jujur dalam belajar, maka ketika mendapati suatu masalah (pelajaran), semakin bertambahlah keinginannya untuk mendapatkan ilmu.

Adapun orang yang tidaklah menuntut ilmu kecuali hanya untuk mengisi waktu saja, maka sangat rentan untuk tertimpa futur dan rasa malas.

2⃣. Kedua:
Syaithan senantiasa berusaha untuk menjadikan penuntut ilmu merasa putus asa.

Syaithan mengatakan, “Perjalanan (belajar) ini masih panjang, tidak mungkin engkau menguasai ilmu sebagaimana para ulama.” Sehingga yang seperti ini menjadikan penuntut ilmu malas dan meninggalkan belajarnya. Ini salah.

🍂✏️✏️. Salah seorang ahli tarikh menyebutkan tentang salah seorang imam dalam bidang nahwu. Ketika thalabul ilmi, beliau merasa kesulitan mempelajari ilmu nahwu, sehingga hampir saja beliau tinggalkan ilmu tersebut. Suatu ketika, ia melihat seekor semut naik di sebuah dinding dengan membawa makanan. Setiap kali semut itu berusaha naik, ia terjatuh. Terus menerus semut itu berusaha naik, namun terjatuh hingga terhitung sepuluh kali atau lebih semut itu berusaha naik, tetapi terus saja terjatuh. Akhirnya semut itu berhasil menaiki dinding setelah tentunya merasakan lelah dan rasa berat.

Al-Kisa’i pun mengatakan, “Semut ini telah berusaha dan merasakan beratnya apa yang ia lakukan sehingga berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya. Maka sungguh benar-benar aku akan berusaha dan berusaha.”

Maka Al-Kisa’i pun bersungguh-sungguh mempelajari ilmu nahwu, hingga meraih kedudukan sebagai imam dalam bidang tersebut.

3⃣. Ketiga:
Berteman dengan orang yang jelek.

Pertemanan itu memberikan pengaruh terhadap seseorang. Oleh karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendorong kita untuk berteman dengan orang-orang baik. Beliau mengabarkan bahwa teman yang shalih itu seperti penjual minyak wangi misk, yang mungkin engkau dihadiahi minyak tersebut, atau dijual kepadamu, atau setidaknya engkau akan mendapati aroma yang wangi. Sementara teman yang buruk itu seperti tukang tempa (pandai) besi, yang bisa jadi kalau engkau mendekatinya, bajumu akan terbakar, atau bisa jadi engkau akan mencium bau yang tidak sedap.

Masalah pertemanan ini memberikan pengaruh yang besar, sampai-sampai bisa mempengaruhi seseorang, tidak hanya pengaruh untuk meninggalkan thalabul ilmi saja, bahkan juga berpengaruh untuk meninggalkan amalan-amalan ibadah.

4⃣. Keempat:
Terlalaikan oleh sesuatu yang menipu dan banyak menyia-nyiakan waktu.

Sekali waktu seseorang pergi jalan-jalan, (tapi ketika sudah menjadi kebiasaan) sebagian orang justru tergoda dan kecanduan untuk melihat pertandingan sepak bola atau yang semisalnya.

5⃣. Kelima:
Seseorang tidak merasa bahwa ketika thalabul ilmi, ia seperti seorang mujahid di jalan Allah.

Ini adalah sesuatu yang tidak diragukan, karena thalabul ilmi merupakan upaya untuk menjaga syariat ini dan mengajarkannya kepada manusia.

Tujuan dari seorang mujahid adalah menghalangi pengaruh orang kafir terhadap agama Islam ini, namun seorang thalibul ilmi bisa memberikan manfaat kepada umat seluruhnya.

Benar bahwa terkadang kita katakan kepada seseorang: “Jihad lebih utama bagimu.” Karena memang ia lebih pantas untuk berjihad. Dan terkadang pula kita katakan kepada yang lainnya: “Thalabul ilmi lebih utama bagimu.” Namun yang aku maksudkan adalah bahwa thalabul ilmi itu sendiri lebih utama daripada jihad di jalan Allah. Allah telah berfirman,

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

Inilah sebab-sebab futur dalam thalabul ilmi yang bisa kami sebutkan. Engkau wahai penuntut ilmi wajib untuk memiliki semangat dan cita-cita yang tinggi, tunggu hasilnya di masa mendatang. Sesungguhnya dengan keikhlasan niat Engkau kepada Allah, bisa jadi Engkau akan menjadi seorang imam dalam agama Islam ini.

Diterjemahkan dari http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=140060 dengan sedikit perubahan.

▪️http://mahad-assalafy.com/sebab-sebab-futur-dalam-thalabul-ilmi/
▪️http://mahad-assalafy.com/sebab-sebab-futur-dalam-thalabul-ilmi-lanjutan/





PERGUNAKANLAH WAKTU UNTUK MENGHAFAL AL-QUR'AN DAN AS SUNNAH

PERGUNAKANLAH WAKTU UNTUK MENGHAFAL AL-QUR'AN DAN AS SUNNAH

🔸 Al Imam Rabi' bin Hadiy Al Madkhaliy hafizhahullah berkata :

Hadapkanlah diri kalian untuk menghafal al-Qur'an. Gunakanlah waktu-waktu kalian untuk menghafalnya (al-Qur'an), kemudian menghafal as-Sunnah, kemudian menghafal apa yang mudah dari matn-matn yang telah aku sebutkan kepada kalian.

Kemudian talaqqi (mengambil) ilmu langsung dari para ‘ulama. Berjalanlah kalian di atas metode ini, di atas manhaj yang jelas dan baik ini.

Setelah itu, kalian akan menjadi tokoh-tokoh besar ummat ini. Kalian – in syaa Allah – akan memimpin mereka kepada kebaikan, ilmu, hujjah, burhan, dan tarbiyah yang benar."

📚 Al Lubab min Majmu' Nashaih wa Taujihat Asy Syaikh Rabi' lisy Syabab hal 197


📝💻 Majmu'ah Hikmah Salafiyyah || ▶ https://t.me/hikmahsalafiyyah

BILA ASYURO JATUH PADA HARI JUM'AT ATAU SABTU

BILA ASYURO JATUH PADA HARI JUM'AT ATAU SABTU

✒️ Abu Ubaidah As Sidawi

☄ Perlu diketahui bahwa ada hadits-hadits yang berisi larangan menyendirikan puasa Jum’at dan larangan puasa Sabtu kecuali puasa yang wajib. Apakah larangan ini tetap berlaku ketika hari Asyuro jatuh pada hari Jum’at atau Sabtu?!

🎓 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Adapun bagi orang yang tidak menyengaja untuk puasa karena hari Jum’at atau Sabtu, seperti orang yang puasa sehari sebelum dan sesudahnya atau kebiasaannya adalah puasa sehari dan berbuka sehari, maka boleh baginya puasa Jum’at walaupun sebelum dan sesudahnya tidak puasa. 
Atau dia ingin puasa Arafah atau Asyura' yang jatuh pada hari Jum’at, maka tidaklah dilarang, karena larangan itu hanya bagi orang yang sengaja ingin mengkhususkan (hari Jum’at dan Sabtu tanpa sebab, Pen.).” (Kitabush Shiyam min Syarhil Umdah 2/652. Lihat pembahasan masalah ini secara luas dalam Zadul Ma’ad 2/79, Tahdzibus Sunan 3/297 krya Ibnul Qoyyim) 

☄ Intinya, maksud hadits-hadits larangan tersebut adalah jika seseorang mengkhususkan. Adapun jika tidak maka tidak mengapa insya Allah. Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini untuk menggabungkan beberapa hadits sebagaimana dikuatkan oleh mayoritas ulama kita. 

Menarik sekali ucapan sebagian peneliti masalah ini tatkala mengatakan, 

“Dahulu saya mengikuti Syaikh kami al-Albani dalam pendapatnya yang melarang puasa Sabtu secara mutlak, sampai-sampai saya tidak puasa Asyura' dalam beberapa tahun karena saya meyakininya sebagai pendapat yang benar. 

☄ Namun, setelah penelitian terhadap pendapat para ulama dalam masalah ini, nyatalah bagi saya tanpa keraguan bahwa puasa hari Sabtu tanpa mengkhususkan dan maksud pengagungan adalah disyari’atkan.” (Al-Qaulul Qawim fi Istihbab Shiyam Yaumi Sabti hlm. 7–8 oleh Abu Umar Usamah ibn Athaya. Lihat pula kitab Hukmu Shaumi Yaumi Sabti fi Ghairil Faridhah oleh asy-Syaikh Sa’ad ibn Abdillah alu Humaid).

☄ Kami tegaskan hal ini agar semua mengetahui bahwa kami tidaklah fanatik dan taklid kepada siapa pun termasuk kepada asy-Syaikh al-Albani, karena kami berputar bersama dalil dengan tetap menghormati mereka dan orang-orang yang mengikuti pendapat mereka, karena kita semua adalah bersaudara.

🌐 Channel Telegram  LenteraDakwah

Rabu, 27 September 2017

BAGAIMANA PARA ‘ULAMA MENGATUR WAKTU MEREKA..?

Bagaimana para ulama mengatur waktu mereka antara mempelajari ilmu, mencari nafkah, isteri, anak, orangtua dll ? 

Az-Zubair bin Bakkar berkata : “Anak saudara perempuanku berkata kepada istriku : “Pamanku adalah sebaik-baik suami terhadap istrinya. Dia tidak mengambil istri lagi dan tidak membeli budak perempuan”. Istriku pun berkata : “Sungguh kitab-kitab ini lebih berat dan lebih sulit bagiku dari pada 3 orang madu”.

Suatu hari anak Abu Yusuf (murid Abu Hanifah) meninggal dunia, lalu Abu Yusuf mewakilkan kepada tetangganya untuk memandikan dan menguburkan anak itu agar ia tidak ketinggalan pelajaran dari gurunya Abu Hanifah.

Masya Allah, lihatlah contoh dari 2 kisah diatas bagaimana semangatnya para ulama dalam menuntut ilmu.

Yang satu istrinya lebih cemburu kepada kitab-kitab suaminya daripada 3 istri yang lain seandainya suaminya mau menikah lagi.

Yang satunya lagi Abu Yusuf tidak mau ketinggalan pelajaran yang disampaikan gurunya meskipun anaknya meninggal dunia, karena itu ia tetap hadir di majelis taklim.

Abdullah putra Imam Ahmad bin Hambal rahimahumallah berkata :

“Ayahku mengajariku al-Qur’an seluruhnya dengan usahanya sendiri” (Manaqib al-Imam Ahmad karya Ibnul Jauzi hal 496)

Malik bin Anas rahimahullah berkata :

“Dahulu para salaf mengajari anak-anak mereka untuk mencintai Abu Bakar dan Umar, sebagaimana mereka mengajari mereka al-Qur’an” (Syarah Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah hal 1240 no. 2325)

Para ulama itu tetap mencari nafkah yang halal, menyediakan waktu untuk istri, anak, orang tuanya dll. Tetapi memang kebanyakan waktunya habis untuk belajar dan belajar, menulis, beribadah serta berdakwah, sehingga akhirnya mereka memperoleh kemuliaan dan ketinggian dalam ilmu dan amal.

Dan untuk mencapainya tentu harus bersungguh-sungguh dalam mujahadah, pengorbanan, berdoa, mengikhlaskan niat dll sehingga menjadi barokah untuk dirinya dan manusia secara umum.

Dan satu lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu peran istri yang shalihah dan qona’ah, yang ikhlas, zuhud dan sabar dalam pengorbanan, yang rela menyerahkan sebagian haknya dari sisi waktu yang terambil, dan terkadang dari sisi nafkah yang agak berkurang, karena banyaknya waktu yang dihabiskan oleh suaminya untuk menuntut ilmu.

Lihatlah contoh Imam al-Albani rahimahullah yang dalam sehari belajarnya sampai 12 jam. Sisa waktunya beliau gunakan untuk mencari nafkah, tidur, melakukan ibadah dll.

Seorang guru berkata : “Setiap penuntut ilmu hendaknya menyediakan waktu dalam sehari untuk belajarnya minimal 4 jam”

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata :

“Hendaknya seorang penuntut ilmu memiliki semangat dalam belajar dan mengoptimalkan waktunya, baik siang maupun malam, saat muqim maupun safar. Waktunya tidak boleh berlalu tanpa ilmu, kecuali untuk keperluan yang mendesak, seperti makan dan tidur yang sekedarnya atau yang semisal dengan itu. Istirahat sebentar untuk menghilangkan kebosanan dan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak lainnya”

Saudaraku, lalu bagaimana dengan dirimu ?

Ustadz Najmi Umar Bakkar,  حفظه الله تعالى


*http://bbg-alilmu.com/archives/31228

Senin, 18 September 2017

Kuliah + jago agama bisa ???

*MAU KEMANA, MAS?*
I will fly to reach my dreams too..

🔜*Roy Grafika*, hanyalah seorang pelajar sekolah menengah SMA yang sering hadir di pengajian masih berseragam putih abu-abu di sore hari selepas sekolah.
berprawakan kurus, adalah anak yang sangat rajin mencatat isi pengajian. Ia orang yang terbina memiliki catatan lengkap dan rapi. Bukan sekedar lulus dan menuntaskan sekolah menengah namun disertai dengan nilai lulus dari SMA 1 Jogja pun cukup bagus, kalau tidak salah nilai matematikanya 10. Karena sangat terkesan dengan cara berIslam yang ilmiah, ia tidak mengambil kursi di universitas namun selepas SMA ia mondok 2 tahun di suatu pesantren di Gresik. Sewaktu di pesantren ia berhasil lulus seleksi untuk mendapatkan beasiswa S1 di bidang hadits di Universitas Islam Madinah.
Saat ini ia adalah *Ustadz Roy Grafika, Lc, MA* (semoga Allah menjaganya !) mahasiswa S3 bidang aqidah di Universitas Islam Madinah.

🔜 *Firanda* hanyalah mahasiswa biasa asal Papua di Jogja.
Jangankan membaca kitab gundul, belajar nahwu saja dari kitab yang paling dasar yakni kitab muyassar karena ada kursus bahasa Arab dasar tahun 1999. Karena lebih tertarik belajar ilmu Islam. Ia keluar dari depertment of Chemical engineering Gadjah Mada University dan pergi ke pesantren di Bantul kurang lebih 2 tahun. Dan pernah bercerita kalau di awal-awal ia membaca kitab dengan keras-keras untuk dikoreksi a… i… u-nya oleh santri lain.
Kini ia adalah *Al Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja Lc, MA* (hafidzahullah), mahasiswa doktoral bidang aqidah di Universitas Islam Madinah, S1 ia selesaikan di bidang hadits. Saya dengar selain belajar formal juga belajar non formal pada berbagai ulama di Madinah.

🔜 *Fauzan* hanyalah mahasiswa kos asal Cirebon sebagaimana anak-anak kuliahan yang lain di sekitar Pogung, utara kampus UGM.
Namun ia memiliki ketekunan dan perhatian lebih untuk sambil belajar ilmu alat beragama termasuk bahasa Arab. Selain itu juga sangat perhatian dengan regenerasi keilmuwan beragama pada generasi penerus. Hingga di salah salah satu bukunya ia tuliskan ”selesaikan kuliah dulu”. Hingga ia dan kawan-kawannya merintis pesantren mahasiswa. Agar selain menguasai ilmu teknik, kedokteran, ekonomi, dll, kelak nanti kalau jadi sarjana juga menguasai bahasa arab, fiqih dan ushul fiqih.
Setelah berhasil meraih gelar ST bidang teknik kimia, ia berhasil mendapatkan beasiswa S1 di universitas Madinah bahkan berhasil sampai ke jenjang master bidang agama. Ia sekarang adalah seorang yang bernama *Al Ustadz Fauzan, ST, Lc, MA* (semoga Allah menjaganya !), Saya tidak tahu apakah berlanjut ke doctoral saat ini. Tapi yang jelas beliau juga seorang wirausahawan yang trampil dan cekatan mencari peluang. *Noor Ahmad*.
Sewaktu mahasiswa hanyalah tipikal mahasiswa pada umumnya. Waktu itu kebanyakan mahasiswa sangat jarang interest dengan belajar pada keilmuwan klasik. Biasanya kalau sudah belajar dasar-dasar bahasa Arab atau lanjutan akan kesulitan membagi waktu untuk sinau dan belajar. Kini ia adalah *Ustadz Dr. Noor Ahmad* (hafidzahullah), meskipun ia seorang doktor bidang elektro, tetapi ia mampu menguasai tingkat lebih lanjut semacam ushul aqidah, mustholah hadits, ushul fiqih dll. Sehingga selain jadi dosen di jurusan elektro UGM, ia juga bisa mendidik generasi mahasiswa untuk menguasai ilmu-ilmu ini. Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menjaganya !.

🔜Adalah juga seorang mahasiswa UIN Jogja *Aris Munandar*, ia diberi perhatian lebih dalam ilmu-ilmu ushul dan metode manhaj beragama dari gurunya.
Sepertinya dari tingkat SMA ia sudah sangat menguasai pokok keilmuan Islam Di tingkat kuliah ia sudah matang ilmu ushul keIslamannya. Sehingga tidak aneh ketika seorang ustadz menyampaikan suatu kitab ia mampu membetulkan ucapan ustadz tersebut. Kuliah di UIN ia selesaikan dengan baik juga hingga selang kemudian berlanjut menempuh jenjang S2 dengan baik. Kini ia adalah *Ustadz Aris Munandar, MA*, sosok ustadz yang bersahaja dan tawadhu’ bersama beberapa ustadz berhasil mendidik mahasiwa kuliahan umum menjadi sarjana-sarjana yang mampu berhujjah dengan dalil. Sehingga ia menjadi pendidik dan pencerah para remaja dan pemuda yang semangat dalam menuntut ilmu Agama di Jogja.

🔜*Taufiq Chowdry*
Taufiq lulus SMA dengan predikat veledicterian dan mendapatkan medali sebagai lulusan 3 terbaik di seluruh Australia.
Lalu ia diterima di fakultas kedokteran Universitas Melbourne, universitas top di Australia. Di awal-awal tahun ia adalah mahasiswa yang ekselen dan panen penghargaan. Namun memandang ilmu agama penting dan kurangnya ulama di sana (pen), ia melamar dan mendapatkan beasiswa S1 belajar agama ke Timur Tengah. Begitu giatnya ia tidak puas dengan kelas formal di pagi hari. Ia menambah pelajaran pada beberapa ulama besar. Selesai belajar agama ia kembali ke Australia dan mendirikan Al Kauthar institute untuk mendidik generasi muda. Selain juga menjalankan perusahaan di bidang IT. Masih berusia muda, di samping sebagai kepala keluarga dengan cukup banyak anak, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dokternya di Universitas Brisbane.
*Syaikh Tawufiqe Chowdhry, MD* adalah seorang speaker yang sangat produktif di Australia-UK-Canada yang ceramahnya cukup banyak di internet. Semoga Allah menjaganya.

🔜 *Abu Ishaq Al Huwainy Hijazi* adalah anak kampung seperti biasanya.
Sewaktu di SMA ia bermain ke tempat kos kakaknya di kota. Sepulang dari sholat Jum’at ia melihat orang yang menjual buku eceran pinggir jalan. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah tentang sholat yang ditulis ahli hadits abad ini Syaikh Albani. Ia tertarik setiap gerakan dan do’a dalam sholat terdapat komentar dan justifikasi dalil shohih atau tidaknya di dalam buku itu dan bagaimana cara beragama terbaik, mengikuti siapa dalam beragama.
Setelah mampu membeli bukunya secara utuh ia baca dan sangat terkesan dengan cara penyajian dan metodologinya yang sangat kuat pendalilan dengan hadits shohih atau lemah yang Hijazi sendiri tidak menguasai ilmu itu. Mulai saat ia bertekad untuk mengusai ilmu tentang hadits dan bagaimana mengklasifikasikannya.
Sehingga Sewaktu kuliah di jurusan Bahasa Spanyol di suatu universitas di Kairo, siang kuliah malam belajar ilmu hadits pada berbagai guru. Ia bertemu dengan Syaikh Khisk dan menasehati, “wahai anakku belajarlah (tentang hadits) sebelum mempelajari kuliah yang lain. Sebelum berangkat kuliah ia menemui gurunya untuk belajar, sampai terucap “ saya malu kalau kokok ayam jantan mendahului membangunkanku.
Setelah lulus S1 ia mendapatkan beasiswa pergi ke Spanyol untuk memperdalam bahasa Spanyol di institute kebahasaan di sana. Namun karena kurang tertarik lebih jauh maka tidak ia teruskan memperdalam bahasa Spanyol. Ia kembali ke Mesir siang bekerja di toko dan malam belajar pada berbagai guru termasuk Sayid Sabiq (Penulis Fiqush Sunnah), keterbatasan dana ia siasati dengan masuk ke perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab klasik. Hingga ia berhasil menyusun buku terkait hadits, yang dibaca oleh Syaikh Albani sewaktu ke Kairo dan tidak mereka tidak saling bertemu. Syaikh Albani impressed ternyata ada pemuda yang telah berhasil mengikuti beliau dalam metodologi ilmu hadits.
Hijazi ini berangkat ke Jordania tinggal 1 bulan untuk belajar di tempat Syaikh Albani. Lalu bergurulah ke Saudi ke ulama ahli hadits Syaikh Bin Baaz, Utsaimin dll.
Hijazi ini adalah *Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy*, salah satu ulama pakar hadits abad ini. Lihatlah beliau memiliki latar belakang pendidikan formal non agama, sastra Spanyol yang mungkin jurusan yang tidak terlalu elit, namun dengan asbab terinspirasi timbul semangat yang menyala-nyala sehingga menjadi seseorang yang berkontribusi kuat dalam keilmuan Islam.
??? Tak terasa waktu panjang telah berlalu lewat tanpa pengetahuan dan cantolan ilmu beragama yang cukup. Fokus dan arah telah menjebak pada posisi berlebihan yang tidak ada ujung pangkalnya.
Urusan dunia memang perlu namun pengetahuan dasar-dasar beragama secara ilmiah merupakan bagian kehidupan yang hakiki. Sayang telah terpinggirkan, bukan urusan penting dan actual.
Wahai para pemuda, jangan sia-siakan waktu Anda untuk terkesima dengan beragama dengan cara *haroki*.
Terkesan indah namun tidak asli.
Terkesan aktual dan popular namun tidak hakiki.
Terkesan modern dan hebat namun tidak lestari. Seperti mainan anak-anak kecil di masanya, akan lenyap dengan cepat diganti oleh gaya dan trend yang lebih gokil dan terkini.
Anda yang terpesona dengan fitnah dan membicarakan ustadz dan da’i fulan adalah hizbiyah dan sururi bukan ustadz terpercaya, berhentilah.
Bukan porsi Anda untuk membicarakan dan berbisik-bisik.
Ada yang lebih berhak dan sudah ada orang, yakni ulama berkapasitas.
Umur terlalu pendek dan waktu untuk membicarakan fitnah yang tidak bertepi.
Yang belum sama sekali bisa bahasa Arab pelajarilah kitab nahwu muyassar, meningkat ajrumiyah, mulakhos dst.
Pelajarilah hakekat aqidah, ringkasan fiqih dst.
InsyAllah akan lebih menghujam dan menjadi panduan beragama Anda.
Isilah fase muda menjadi tiang yang kuat yang hidup dan menebar kebaikan.
Jika tidak, waktu umur 45-50an dan masa setengah baya Anda akan sangat menyesal.
_OTAK SAYA TUMPUL DAN BODOH_
Dikisahkan bahwa seorang pelajar yang bernama Kisai belajar tata bahasa arab namun tidak paham-paham dan hampir putus asa.
Suatu saat ini melihat seekor semut yang berusaha membawa makanan naik ke dinding namun terjatuh berkali-kali.
Semut itu mencoba mengangkat lagi namun jatuh lagi sampai berkali-kali hingga pada percobaan si semut berhasil membawa dan mengangkut makanan mendaki dinding ke atas.
Terinspirasi oleh usaha keras si semut, Kisai berusaha belajar lebih baik lagi dan lagi.
Hingga akhirnya ia dikenal sebagai *Imam Al Kisai*, salah seorang imam ilmu nahwu, ilmu yang dulu ia sangat sulit mempelajarinya.
Namun janganlah jika inspirasi Anda dari air yang menetes pada batu yang akhirnya memecahkan struktur batu itu, tentu sedikit tidak relevan karena jangka waktu terlalu lama………
*Jadi, mau kemana, Mas?*
I will fly to reach my dreams too….bismillah !
Oleh: Azis Saifudin
*Ustadz Firanda Andirja telah mendapatkan gelar Doktor di bidang aqidah. Dan kini telah pulang ke tanah air.
Sedang Ustadz Fauzan tidak melanjutkan ke jenjang Doktor. Sekarang tinggal di Jonggol membimbing pesantren Madinatul Quran
#Reshare dari page Untukmu yang Berjiwa Hanif







Jumat, 15 September 2017

DALIL YASIN SAAT ZIARAH
25 November, 2013  By: Ustadz Aris
CATEGORY: BIMBINGAN ISLAM, FIQIH 




A.Pertanyaan:
Kekuatan sanad hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar tentang ziarah kubur kedua orang tua atau salah satu dari mereka pada setiap hari Jum‘at, kemudian hadits tentang membaca surat Yasin akan diampuni dia sebanyak jumlah ayat dan huruf?
Jawaban:
Setelah melalui pelacakan dari berbagai kitab hadits, akhirnya bisa ditemukan di dalam kitab Faidl al-Qadir Syarah Kitab al-Jami‘ ash-Shaghir karya Abd ar-Rauf al-Manawi, Juz VI: 141. Teks selengkapnya adalah:
لِأَبِي الشَّيْخِ وَالدَّيْلَمِي عَنْ أَبِي بَكْرٍ مَنْ زَارَ قَبْرَ وَالِدَيْهِ كُلُّ جُمُعَةٍ أَوْ أَحَدِهِمَا فَقَرَأَ عِنْدَهُ يسٍ وَالْقُرْآنِ الْحَكِيْمِ غُفِرَ لَهُ بِعَدَدِ كُلِّ أَيَةٍ وَحُرْفٍ مِنْهَا.
Artinya: “Riwayat Abu asy-Syaikh dan ad-Dailamiy dari Abu Bakar: Barangsiapa berziarah kubur kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jum‘at, kemudian membaca surat “Yasin wa al-Qur’an al-Hakim”, maka diampunilah dia sebanyak jumlah ayat dan huruf dari surat itu.”
Menurut kitab Mizan al-I‘tidal fi Naqd ar-Rijal, karya Syams ad-Din Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman adz-Dzahabi, Juz V: 316, dinyatakan bahwa sanad hadits tersebut bathil, dengan demikian tidak bisa dijadikan hujjah.
Sedangkan hadits kedua tentang pembacaan permulaan surat al-Baqarah di sebelah kepala mayit, dan akhir surat al-Baqarah di sebelah kakinya, dengan sangat menyesal belum bisa ditemukan rujukannya, meskipun sudah dilacak di berbagai kitab hadits. Kami kesulitan menemukan kata kunci untuk mencari hadits tersebut, karena dalam pertanyaan anda hanya menyertakan terjemahannya.
Referensi:

Rabu, 13 September 2017

UNTUK JOMBLO

UNTUK JOMBLO

(Tulisan ini adalah surat pribadi saya untuk seorang sahabat beberapa bulan yang lalu... Semoga Allah selalu menjaganya dan pembaca sekalian.)

« Sebelum Melangkah Lebih Jauh»

Bismillahirrahmaanirrahim
Wassahalatu wassalamu ala rasulillah wa ba'du'

Apa kabar akhi..?
Semoga antum dan keluarga selalu dalam lindungan Allah azza wa jalla.
Maaf jika kedatangan surat ini sedikit banyak menyita waktu antum.
Setelah tau kalau antum sedang termotivasi untuk jadi imam yang baik bagi keluarga, saat itu ana langsung berfikir untuk menulis risalah kecil ini buat antum.
Dan Alhamdulillah… Setelah sekian lama menunggu, ana rasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengirimkan surat ini untuk antum.

Bismillah...

Akhi fillah…
Aku tidak tau pasti kapan masa bahagia itu datang menyapa harimu. Hari ketika engkau menjalani taqdir terindah dari Sang Khaliq, menjadi pemimpin dalam keluarga. Aku berharap agar engkau segera merasakan ketenangan bathin seperti yang dirasakan kawan-kawanmu saat ini, Alhamdulillah....

Sebelum hari bahagia itu tiba, aku hanya ingin mengingatkan bahwa memimpin bukanlah hal yang mudah, apalagi jika yang dipimpin itu adalah kelompok kecil dalam suatu masyarakat (keluarga). Tak ayal, tanggung jawab sebagai pemimpin pun dituntut.
Rasulullah shallahu alaihi wasalam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang Amir yang membawahi rakyatnya adalah pemimpin, dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam rumah tangganya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Seorang wanita adalah pemelihara atas rumah dan anak- anak suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Dan seorang budak adalah penjaga atas harta tuannya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban atasnya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya".(HR. Muslim dari sahabat Abdullah Ibnu Umar Radhiallahu anhu)

Pada dasarnya, pernikahan adalah fitrah dan sunnah yang sangat dianjurkan, bahkan makruh meninggalkannya tanpa udzur syar'ie. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas Radhiallahu anhu, beliau bersabda: "Menikah adalah sunnahku, dan barangsiapa yang enggan terhadap sunnahku maka dia bukan dari golonganku." (HR. Bukhari Muslim dari Anas Radhiallahu anhu). Dan juga sabda beliau: " Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian yang telah memiliki kemampuan maka menikahlah, karena hal itu lebih menundukkan pandanganmu dan lebih menjaga kehormatanmu. Dan barang siapa yang tidak memiliki kemampuan, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa akan menjadi perisai baginya (dari melakukan zina)" (HR.Bukhari,Muslim).

Cermati dengan baik hadits di atas. Sekiranya pernikahan di usia dini mendatangkan masaalah sebagaimana pandangan sebagian orang tua yang kurang memahami hikmah syariat, tentu Rasulullah tidak akan menganjurkan para pemuda agar menikah diusia dini. Padahal Rasulullah bukanlah manusia yang berbicara menuruti hawa nafsunya. Beliau semata-mata berbicara dibawah bimbingan wahyu dari Allah azza wa jalla. Lagi pula, agama yang hanif ini tidak ingin generasi mudanya tenggelam dalam lautan syahwat, hanyut dalam buaian cinta tanpa status, dan terkurung dalam perjara kegalauan yang pengap dan sepi.

Namun anehnya, setelah tahu maslahat (kebaikan) yang ditawarkan syari'at, ada saja orangtua yang enggan menikahkan anaknya diusia dini dengan beragam alasan. Ada yang berkata, "Nanti saja nikahnya, ntar kalau udah mapan." Ada juga yang beralasan, "Nanti dikasih makan apa anak orang..?" dan ungkapan-ungkapan yang mencerminkan lemahnya iman dan kurangnya rasa tawakkal kepada Allah Azza wa jalla. Sementara disisi lain, sang anak jatuh bangun berperang melawan berbagai macam godaan syahwat yang datang tak kenal henti.

Padahal Rasululullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "Ada tiga golongan yang berhak mendapatkan

pertolongan Allah: Mujahid yang berjuang di jalan Allah, seorang budak yang ingin memerdekakan dirinya, dan orang yang menikah karena ingin menjaga kehormatannya". (HR. Tirmidzi).

Akhi fillah…
Dalam menjalani kehidupan berumah tangga, engkau tentunya akan melewati perjalanan panjang yang melelahkan. Hal itu karena kedudukanmu ditengah-tengah keluarga ibarat nahkoda sebuah kapal. Engkau harus pandai memainkan peran dan cerdas melihat situasi, agar orang yang bersamamu merasa aman, tenang dan nyaman. Engkau juga harus memiliki azam (tekad) yang kuat, kepribadian yang tenang dan sabar agar tetap tegar, tidak canggung, takut apalagi gentar sekuat dan sebesar apapun badai dan gelombang yang menerpa bahtera rumah tanggamu.

Sebelum mengarungi samudra kehidupan yang luas itu, engkau perlu mempersiapkan diri sejak dini, persiapan yang mencakup lahir maupun batin. Membekali diri dengan ilmu agama adalah suatu keharusan yang tidak dapat ditawar lagi. Agar engkau dapat memfungsikan diri sebagai qawwam (pemimpin/pengayom) yang baik dalam rumah tanggamu. Allah azza wa jalla berfirman: "Laki-laki adalah pemimpin bagi wanita" (QS:Annisa: 34)

Engkau harus tau bahwa keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan meletakkan kaidah-kaidah yang penuh hikmah, guna menjaga kehidupan keluarga dari ketidakharmonisan dan kehancuran. Kita mungkin pernah bertanya, mengapa demikian besar perhatian Islam terhadap keluarga? Itu karena keluarga adalah batu pertama dalam bangunan masyarakat muslim, ia merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di muka bumi.

Bila pondasi yang bernama keluarga itu kuat, agama dan akhlak segenap anggotanya lurus, maka akan kuat pula bangunan suatu masyarakat, dan akan terwujud ketentraman yang didambakan bersama.
Sebaliknya, bila ikatan keluarga itu tercerai berai, dan kerusakan meracuni anggota-anggotanya, maka dampak berupa ketimpangan sosial dan kerusakan moral akan muncul pada lingkungan dan masyarakat tersebut.

Akhi fillah…
Sebelum engkau menikah, tentunya engkau akan melewati masa pencarian. Dalam masalah ini, aku tidak ingin mendiktemu. Aku akan membiarkanmu memilih siapa yang akan menjadi tempat anak-anakmu kelak memanggil ibu. Namun sebagai sahabat, izinkan aku berbagi tentang bagaimana seharusnya seorang pemuda muslim memilih pasangan hidupnya. Sebab tidak akan menyesal orang yang selalu beristikharah kepada Sang Khaliq dan bermusyawarah dengan makluk-Nya, serta berhati-hati dalam menangani persoalan hidupnya.

Ketahuilah bahwa sifat bathin dan watak asli seorang wanita hanya akan tampak secara hakiki setelah pernikahan. Berapa banyak wanita yang dipuja-puji sifatnya, tapi kemudian yang tampak justru kebalikannya. Adapun Islam, sifatnya yang komprehensif telah memberikan petunjuk bagi orang yang akan menikah dalam memilih pasangan hidupnya, yaitu dengan menjadikan wanita yang baik agamanya sebagai prioritas. Agar tujuan dan hikmah pernikahan bisa terealisasi.

Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "

تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك

Wanita itu dinikahi karena empat hal: Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya engkau akan beruntung. (Muttafaq alaihi)

Wasiat Rasulullah shallahu alaihi wasallam yang menganjurkan pemuda muslim mencari wanita yang baik agamanya, tidak berarti mengesampingkan keinginan pemuda terhadap kecantikan seorang wanita, sebab dalam hadits yang lain Rasulullah shallahu alaihi wasallam menganjurkan calon suami untuk terlebih dahulu melihat wanita yang akan dinikahinya sebelum melangsungkan prosesi khitbah dan aqad nikah. Hal ini dianjurkan agar seorang muslim tidak terjebak dalam pilihannya, lalu menikahi gadis yang tidak cocok dengan keinginannya dan tidak menyenangkan pandangannya.

Sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiallahu anhu berkata: Saat aku melamar seorang wanita di masa Nabi shallahu alaihi wasallam, ma

ka Nabi shallahu alaihi wasallam bertanya ," Apakah engkau telah melihatnya.?' Aku menjawab, 'tidak, beliau bersabda: "Lihatlah ia (terlebih dahulu), karena hal itu akan menumbuhkan kecocokan dan (perasaan) saling mencintai diantara kalian berdua". (HR An Nasa'i).

Dalam banyak hadits, Rasulullah shallahu alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa kecantikan termasuk aspek utama yang dicari para pemuda dari wanita solehah. Tentunya disamping aspek-aspek kepribadian lainnya. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ditanya," Wanita manakah yang terbaik …?'' Beliau bersabda: "Yang menyenangkan bila dipandang, taat bila disuruh, dan tidak melanggar terhadap apa yang tidak disukai (suaminya) dalam diri dan hartanya."

Hadits-hadits tersebut dan yang semisalnya menggambarkan betapa Rasulullah shallahu alaihi wasalam menghendaki bagi ummatnya pernikahan yang dibangun diatas dasar yang kokoh dan seimbang antara tuntutan jasmani dan rohani. Agar ikatan suci itu kuat dan tidak mudah goyah dan diombang-ambingkan.
Namun bagaimanapun juga, baiknya agama pada diri wanita merupakan pertimbangan utama saat meminang nanti, selanjutya keluhuran akhlak dan keelokan wajah. Hal ini karena keelokan wajah yang disertai keindahan agama dan akhlak akan mengantarkan wanita pada kesempurnaan jiwa dan kepribadiannya.

Apabila telah terkumpul pada diri seorang wanita keluhuran agama, akhlak, kecantikan, kekayaan, dan kebangsawanan, maka jangan ragu lagi dalam melangkah. Hanya saja , jangan mendahulukan kriteria-kriteria lainnya atas agama. Karena Rasulullah Shallahu alaihi wasallam bersabda: "Dunia adalah perhiasan, dan sebaik- baik perhiasannya adalah wanita sholehah". (HR Muslim)

Akhi fillah…
Bila tekad untuk menikah sudah mantap, maka beristikharahlah kepada Allah. Mintalah petunjuk kepa-Nya. Dirikanlah sholat dua rakaat kapan saja diluar waktu yang terlarang untuk mengerjakan sholat, kemudian bacalah do'a istikharah yang pernah diajarkan Rasulullah Shallahu alaihi wasallam.

"Ya Allah…
Sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan Ilmu Pengetahuan-Mu. Dan aku mohon kuasa-Mu (untuk mengatasi persoalanku) dengan Maha Kuasaan-Mu.
Aku mohon kepada-Mu dari anugrahmu Yang Agung, sesungguhnya Engkau Maha kuasa, sedang aku tidak kuasa. Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui yang ghaib.

YaAllah…
Apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (sebutkan permasalahanmu) baik dalam agama dan kesudahan urusanku di dunia dan akhirat, maka taqdirkanlah ia untukku, mudahkanlah jalannya serta berkahilah ia untukku. Akan tetapi, bila engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagiku dalam agama dan kehidupanku serta akhir dari urusanku maka palingkanlah persoalan tersebut dan jauhkan aku darinya, serta taqdirkan kebaikan untukku dimana saja kebaikan itu berada, dan ridhoilah aku dalam urusan ini."

Sebelum meminang, tidak ada salahnya jika engkau menanyakan perihal akhlak sang gadis kepada orang yang mengenalnya lebih dekat dan dapat dipercaya, sebab buruknya akhlak seringkali menjadi pemicu retaknya hubungan rumah tangga.

Bila nanti lamaranmu diterima, jangan menunda untuk maju ke langkah selanjutnya. Mohonlah restu pada kedua orangtua untuk melangsungkan pernikahan. Penuhilah mahar yang diminta sang gadis sebelum engkau menggaulinya, dan sebaik-baik wanita adalah yang paling sedikit maharnya.

Berusahalah untuk sederhana dalam menyelenggarakan walimatul ursy (resepsi). Hindari perilaku berlebih-lebihan. Jangan ikut latah dengan sebagian orang yang mementingkan bagaimana menjadi raja sehari dalam resepsi pernikahannya, lalu menghambur-hamburkan uang demi pesta yang besar. Tapi setelah turun dari singgasana seharinya itu, ia malah kebingungan karena tiba-tiba menjadi rakyat jelata penuh hutang. Padahal kehidupan setelah walimah membutuhkan nafkah sebagai bekal berumah tangga.

Ingatlah pesan kesederhanaan yang tersirat dalam sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam, "Rayakanlah walimah walau hanya dengan menyembelih se

ekor kambing".
Nah, Bukankah sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah..? Bukankah menikah adalah sunnah..? Lantas kemana nilai-nilai sunnah itu pada kebanyakan walimatul urs hari ini..?
Nikah itu ibadah, pastikan ibadahmu sesuai tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Agar walimahnya penuh berkah, jangan lupa hadirkan orang-orang miskin, karena ketidakhadiran mereka dikwatirkan berdampak pada hilangnya keberkahan pada resepsi pernikahanmu. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "Seburuk-buruk hidangan adalah hidangan walimah. Orang-orang kaya diundang untuk menyantapnya sementara orang-orang miskin diacuhkan." (HR. Ahmad)

Masyallah.. Merupakan hal yang sangat terpuji bila dihari bahagia itu engkau juga turut berbagi kebahagiaan dengan mereka yang faqir dan miskin. Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda: "Amalan yang paling dicintai oleh Allah setelah amalan-amalan fardhu adalah memberi kebahagiaan pada seorang muslim" (HR. At Thabrani)
Alangkah indahnya ketika engkau menjadi teladan diantara kawan dan kerabatmu yang tak lama lagi akan menapaki jejak langkahmu.

Akhi fillah…
Bila engkau telah menikah nanti…
Jadilah teladan dalam rumah tangga…
Didiklah istrimu dengan baik, sebab dialah yang akan menjadi sekolah pertama bagi anak-anakmu.
Ajari ia tentang kewajiban-kewajiban agama, dan jangan biarkan ia melanggar larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
Jagalah kemuliaan dan kehormatannya.
Ajari ia agar menjauhi ikhtilath (bercampur baur dengan laki-laki yang bukan mahramnya) dan juga tabarruj (Bersolek di depan orang lain selain dirimu).
Jangan biarkan ia meninggalkan istana kecilmu tanpa menutup aurat.
Jagalah... agar jangan sampai ia terjerumus dalam kerusakan akhlak dan agama.

Berlemah lembutlah terhadapnya, karena Islam telah mengangkat kedudukan wanita pada martabat yang tinggi, Ingatlah pesan Rasulullah di haji wada', "Berlaku baiklah kalian terhadap wanita, Karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas, jika engkau memaksanya lurus, maka engkau mematahkanya dan jika engkau biarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Maka berlaku baiklah kalian terhadap wanita" (HR Bukhari Muslim).

Wasiat yang agung dari manusia yang agung ini mengajarkan kita agar mengerti dengan baik tabiat dan fitrah wanita, supaya kita bisa menerimanya (apa adanya) sebagaimana ia diciptakan Allah, dan tidak memeperlakukannya semau kita.
Apabila petunjuk nabi yang luhur ini telah tertanam di dalam dirimu, maka engkau akan toleran dalam banyak kesalahan dan menerima kekhilafan istrimu. Dengan demikian kehidupan rumah tanggamu akan aman, tenang dan bahagia. Tidak akan ada teriakan dan pertengkaran di dalamnya.
Allah azza wa jalla berfirman: "Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin engkau tidak menyukai sesuatu, padahal Allah telah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (QS: An Nisa': 19).

Ayat ini merupakan pijakan yang kokoh agar rumah tanggamu selalu utuh, jauh dari perpecahan. Ia juga merupakan penguat ikatan suci pernikahan tersebut agar tetap terjaga saat dihadapkan pada emosi yang labil. Ingat juga sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam bahwa: "Mukmin yang paling sempurna imanannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya" (HR.At Tirmidzi).

Anas bin Malik pernah menceritakan perihal akhlak Rasulullah shallahu alaihi wasallam. Dia berkata: " Rasulullah adalah manusia yang paling mulia akhlaknya." (HR Bukhari Muslim). Selain itu, dari wajah Nabi shallahu alaihi wasallam selalu terpancar keceriaan, kebahagiaan, sikap optimis. Beliau juga tidak suka bermuka masam dan cemberut. Bahkan Jabir bin Abdullah Radhiallahu anhu berkata: "Tidaklah beliau melihatku melainkan beliau tersenyum".
Sungguh merupakan suatu keberkahan apabila engkau datang menemui keluargamu dengan ucapan salam. Sejuknya sapaanmu yang bagai angin dimusim semi itu, kelak akan melahirkan keakraban dan mawaddah dalam istana kecilmu.

Akhi

fillah….
Bila engkau menikah nanti…
Jangan sekali-kali engkau ingin diperlakukan seperti raja dalam “istana". Disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan. Jika itu kau lakukan, maka ”istanamu” tidak akan langgeng. Tapi ajari dia bagaimana menjadi istri yang baik, niscaya dia akan memperlakukanmu lebih dari yang kau inginkan.

Bila engkau menikah nanti..
Jangan sampai kedudukanmu sebagai suami menghalangimu untuk melakukan sebagian pekerjaan rumah. Lihatlah manusia yang paling mulia, paling tinggi nasab dan keturunannya Rasulullah shallahu alaihi wasallam. Dipuncak keluhurannya beliau tetap memerah sendiri susu dombanya, melayani diri sendiri serta menjahit sendalnya yang rusak dan bajunya yang robek. Bahkan beliau tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar. Lalu apakah engkau ingin lebih baik dari Rasulullah….?

Bila engkau menikah nanti…
Jangan sampai engkau berlebihan dalam mencintai istrimu.
Jangan pula engkau terlalu menuruti keinginannya. Jika itu kau lakukan, maka kemalangan akan menimpamu, mata hatimu akan dibutakan, sehingga engkau tidak lagi dapat membedakan yang hitam dan yang putih. Dan tidak bisa membedakan yang benar dan yang salah.Tapi tegaslah dalam kelembutanmu. Dengan cintamu, ajaklah istrimu untuk taat kepada Allah, jangan biarkan dia berbuat sekehendaknya. Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth. Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.

Ajaklah istrimu bermusyawarah dalam segala hal dalam urusan rumah tangga. disaat ia memepersembahkan bakti tulusnya padamu, hargaialah pekerjaannya, dan jangan pernah engkau meremehkan setitik peluh dan kerja kerasnya. Dan bila nanti engkau mendapati kekurangan pada dirinya, ketahuilah bahwa Allah telah memberinya kelebihan pada sisi yang lain.

Akhi fillah…
Istrimu bukanlah seorang Hajar, bukan juga seorang Maryam, bukan pula seorang Aisyah, Apalagi Khadijah. Tapi ajari dia untuk meneladani Hajar, wanita mulia yang loyal terhadap tugas suaminya Ibrahim Alaihissalam. Ajari ia untuk meneladani Maryam, wanita mulia yang selalu menjaga kehormatannya, atau Aisyah yang cerdas dan Khadijah yang setia mendampingi sang suami Rasulullah shallahu alaihi wasallam ketika menerima tugas risalah.
Jangan kau larang dia untuk melakukan ketaatan kepada Allah, Biarkan ia menjadi wanita shalilah. Dan jangan kau belenggu ia dengan egomu. Karena tak sedikit pernikahan kandas di tegah jalan akibat tingginya ego pasangan. Saling mengakui kesalahan dan meminta maaf atau memaafkan mungkin adalah hal sederhana . Namun dampaknya akan sangat besar terhadap keharmonisan rumah tanggamu.

Dan bila engkau dikaruniai anak…
Maka jadilah Ayah yang bijak seperti Lukmanul Hakim,
tegas seperti Ibrahim dan pengasih seperti Rasulullah shallahu alaihi wasallam.
Bila engkau tak bisa menjadi seperti mereka, berusahalah untuk meneladani keluhuran akhlak mereka.
Jangan lupa, pilihkan nama yang baik untuk anak-anakmu.
Ajaklah mereka mengenal Allah dan taat kepada-Nya sejak dini.
Tanamkan pada mereka akhlak yang tinggi.
Ajari mereka untuk mencintai orang lain, sayang terhadap yang lemah, menyambung tali kekerabatan, menghormati yang lebih tua, serta sayang pada yang lebih muda.
Perhatikanlah dengan siapa mereka bergaul.
Tanamkan jiwa kepahlawanan dalam diri mereka.
Persiapkan mereka untuk menjadi pionir perjuangan agamanya, serta agen perubahan untuk masa depan ummat.
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.
Jangan biarkan mereka bermalas-malasan.
Siapkan mereka untuk menjadi hamba yang shalih.
Hamba yang siap menjadi harapan dihari esokmu.
Agar dia mendoakanmu saat engkau ada ataupun tiada.
Didiklah mereka agar menjadi seperti Yusuf yang berbakti, atau seperti Ismail yang taat.
Jangan biarkan meraka menjadi Kan’an yang durhaka.

Akhi fillah…
Ketahuilah… Ayah yang hebat adalah ayah yang mampu mengajari anak-anaknya mandiri dalam menggali potensi. Membimbingnya, dan memberi kontribusi yang baik dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Ia juga mampu mendorong anak-anaknya mengasah kemampuan diri, meski kadang sikapnya membuat sang anak marah atau membuatnya dibenci oleh anak-anaknya sendiri. Namun hasilnya, anak-anakmu akan belajar mengenai kerja keras dan fokus pada potensi diri yang mereka miliki.
Ayah yang hebat juga selalu memaknai pernikahan sebagai sumber keteladanan bagi anak-anaknya. Karena itu, engkau dan istri hendaknya mencontohkan cara berinteraksi dalam hidup. Mencontohkan bagaimana mengatur amarah, menunjukkan afeksi, bertoleransi dan berbuat baik. Sebab anak akan merekam semua hal itu dari orangtuanya.

Akhi fillah
Ingatlah…
Laki-laki yang baik adalah untuk wanita yang baik-baik, begitupula sebaliknya.
Siapkan dirimu kawan…..
Sebagaimana engkau menginginkan wanita yang baik, maka dia yang menantimu juga menginginkan laki-laki yang baik.
Sebelum engkau melangkah… segeralah berbenah, teruslah berusaha agar lebih baik dari hari-hari yang lalu. Yakini bahwa berbenah itu bukan sesuatu yang sulit, sebab engkau hanya perlu menjadi seperti apa yang Allah inginkan, kemudian menunggu saat Allah memberimu lebih dari apa yang engkau inginkan.

Tidak banyak yang bisa kutuliskan untukmu, aku kwatir bila goresan pena ini tak berhenti, tulisan ini akan semakin panjang. Dan membacanya akan menyita banyak waktu. Teriring do'a dariku, Semoga Allah mengirmkan untukmu orang yang tepat diwaktu yang tepat.
Hingga di tapal batas akhir…., kita tidak boleh lalai untuk saling mengingatkan. Karena keluarga adalah amanah..

Kututup surat ini dengan firman Allah:
''Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (QS: At Tahrim: 6)

Baarakallahu fiikum

Madinah al munawwrah Jum'at 17 Jumadil Awal 1434 H - 29 Maret 2013 pkl 11:46 pagi waktu KSA
Abul Fayruz ACT El-Gharantaly
(Aan Chandra Thalib)